Martapura: Kota Intan, Kota Santri, dan Daya Tariknya

martapura

TL;DR

Martapura adalah ibu kota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, berjarak sekitar 40 km dari Banjarmasin. Kota ini punya tiga julukan: Kota Intan karena jadi pusat penggosokan dan perdagangan berlian terbesar di Indonesia, Kota Santri karena kepadatan pesantren dan tradisi Islam yang kuat, serta Serambi Makkah Kalimantan. Destinasi utamanya mencakup Pasar CBS tempat berburu perhiasan batu mulia, Makam Guru Sekumpul yang setiap tahun menarik jutaan peziarah dari berbagai negara, dan Masjid Agung Al-Karomah di pusat kota.

Kalau Anda menyebut Martapura di depan orang Kalimantan Selatan, reaksinya hampir pasti sama: langsung teringat berlian. Itu bukan kebetulan. Martapura memang sudah berabad-abad menjadi tempat di mana intan digosok, diperdagangkan, dan diolah menjadi perhiasan, dan reputasi itu bertahan hingga sekarang. Tapi ada sisi lain kota ini yang tidak kalah kuat, yaitu identitas religiusnya, yang justru mengundang lebih banyak pengunjung dibanding pasar berlian itu sendiri.

Martapura: Ibu Kota Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan

Martapura adalah ibu kota Kabupaten Banjar, sekaligus pusat pemerintahan dan perekonomian kabupaten tersebut. Secara administratif, Martapura merupakan sebuah kecamatan yang terletak di tepi Sungai Martapura, 40 km di sebelah timur Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Dari Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, perjalanan ke Martapura hanya butuh sekitar 30 menit.

Nama kota ini disebut dalam sejarah ketika perjanjian antara Sultan Banjar dan Belanda ditandatangani di Bumi Kencana Martapura. Selama berabad-abad, Martapura pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banjar, terutama pada masa pemerintahan Sultan Adam, sultan terakhir sebelum kerajaan itu runtuh. Warisan sejarah itu sampai sekarang masih terasa di tata kota, nama-nama tempat, dan cara masyarakatnya hidup.

Mengapa Disebut Kota Intan: Berlian vs. Intan, Bedanya Apa?

Banyak orang memakai kata “intan” dan “berlian” secara bergantian, padahal keduanya berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), intan adalah batu mulia berbentuk kristal dari karbon murni, sedangkan berlian adalah intan yang sudah digosok atau diasah sehingga berkilau. Singkatnya: intan adalah bahan bakunya, berlian adalah produk jadinya. Di Martapura, proses penggosokan itulah yang menjadi keahlian turun-temurun.

Tradisi penambangan dan perdagangan ini sudah berjalan sejak abad ke-16, atau pada masa Kesultanan Banjar. Waktu itu, pertambangan intan adalah hak raja, dan intan yang ditemukan lebih dari empat karat wajib dijual kepada raja atau pemilik apanase. Setelah Belanda menghapus monopoli raja, pertambangan rakyat tumbuh dan terus bertahan hingga kini dalam bentuk pendulangan tradisional.

Salah satu penemuan paling monumental terjadi pada 1965, ketika seorang penambang bernama Matsam menemukan intan seberat 166,7 karat yang kemudian diberi nama Intan Trisakti. Ini adalah intan terbesar pertama yang pernah ditemukan di Kalimantan. Kejadian seperti itu memang jarang, tapi cukup untuk menjaga semangat para pendulang tetap menyala.

Pendulangan sendiri sebenarnya berlokasi di Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, sekitar 7 km dari Pasar CBS Martapura. Martapura berperan sebagai tempat penggosokan dan penjualan, bukan penambangan. Kalau Anda ingin menyaksikan langsung cara pendulangan dilakukan secara tradisional, lokasinya ada di Desa Pumpung, Banjarbaru, bukan di Martapura.

Pasar CBS: Cara Belanja Berlian di Martapura

Pusat perdagangan berlian Martapura ada di Pasar Cahaya Bumi Selamat, atau biasa disebut Pasar CBS, di Jalan Ahmad Yani. Kompleks dua lantai ini dibangun pada pertengahan 1990-an untuk melengkapi los-los permata yang sudah ada di Pasar Martapura (Pasar Batuah) sejak 1970-an. Lantai pertama berisi toko-toko batu permata dan suvenir, lantai dua berisi kios workshop pembuatan perhiasan.

Yang membuat pasar ini unik bukan kemewahan tempatnya, melainkan sebaliknya. Pasar CBS adalah konglomerasi toko sederhana, dan tidak sedikit transaksi senilai jutaan rupiah terjadi antara dua orang di lorong-lorong sempit tanpa meja kasir. Berlian, safir biru, zamrud, topaz, dan berbagai batu mulia lainnya bisa ditemukan di sini dalam berbagai ukuran dan harga, mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah.

Keaslian batu mulia di Martapura kini bisa diverifikasi lewat Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batu Mulia (LPSB) yang berdiri khusus untuk itu. Kalau Anda ragu dengan batu yang hendak dibeli, minta sertifikasinya sebelum transaksi selesai.

Kota Santri dan Serambi Makkah: Sisi Religius Martapura

Di luar reputasinya sebagai pusat berlian, Martapura punya identitas lain yang sama kuatnya: kota agama. Julukan “Kota Santri” dan “Serambi Makkah Kalimantan” bukan sekadar slogan. Di kota ini, santri berpakaian putih hilir mudik di jalan-jalan menuju pesantren, dan kegiatan pengajian berlangsung hampir di setiap sudut. Salah satu pesantren paling berpengaruh di Kalimantan Selatan, Pondok Pesantren Darussalam, berlokasi di sini.

Ulama terbesar yang lahir dari kota ini adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, penulis Kitab Sabilal Muhtadin, referensi fikih Syafi’i yang digunakan di seluruh Nusantara hingga hari ini. Makam beliau, yang dikenal sebagai Makam Datu Kalampayan, berada di Desa Kalampayan Tengah, Kecamatan Astambul, dan rutin dikunjungi peziarah.

Masjid Agung Al-Karomah di pusat kota, yang resmi berdiri pada 10 Muharram 1280 H atau 27 April 1863, menjadi penanda fisik dari identitas Islam Martapura. Masjid berlantai dua ini mampu menampung ribuan jemaah, dan siang malam selalu ada orang yang beribadah atau sekadar beristirahat di dalamnya.

Makam Guru Sekumpul: Destinasi Ziarah Terbesar di Kalimantan

Kalau ada satu tempat di Martapura yang mengalahkan semua destinasi lain dalam hal jumlah pengunjung, itu adalah Makam Guru Sekumpul. Guru Sekumpul adalah sebutan untuk KH Muhammad Zaini Abdul Ghani al-Banjari, ulama kharismatik yang wafat pada 2005 dan dimakamkan di Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura. Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar, makam ini pernah menerima sekitar 5 juta pengunjung dalam setahun, jauh melampaui kunjungan ke Pasar CBS yang sekitar 88.000 hingga 90.000 orang per bulan.

Puncak kunjungan terjadi setiap bulan Rajab dalam kalender Hijriah, saat peringatan haul (hari wafat) digelar. Acara ini termasuk salah satu haul terbesar di Asia, dengan peserta bukan hanya dari Indonesia, melainkan juga dari Timur Tengah dan Afrika. Makam dibuka 24 jam, dan peziarah laki-laki serta perempuan dipisahkan tempatnya.

Kawasan Sekumpul juga berdekatan dengan Masjid Agung Al-Karomah dan Pasar CBS, sehingga banyak pengunjung yang menjadikan ketiganya dalam satu putaran perjalanan di hari yang sama.

Cara ke Martapura dan Perkiraan Waktu Tempuh

Akses ke Martapura cukup mudah. Dari Banjarmasin, perjalanan darat memakan waktu sekitar satu jam. Dari Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, waktu tempuhnya sekitar 30 menit. Tidak ada penerbangan langsung ke Martapura, jadi perjalanan udara selalu dimulai dari Banjarmasin atau Banjarbaru.

Kalau Anda berencana ke Martapura dalam waktu dekat, layanan KUD Martapura menyediakan berbagai informasi lokal seputar kegiatan dan layanan di kota ini yang bisa menjadi referensi sebelum berangkat.

Kalau tujuan utama Anda adalah Pasar CBS, datanglah di hari kerja dan pagi hari. Akhir pekan bisa sangat ramai, dan beberapa pedagang tutup lebih awal. Untuk ziarah ke Makam Guru Sekumpul, makam buka 24 jam, tapi kondisi paling tenang biasanya di luar jam-jam ibadah utama.

Makanan Khas dan Oleh-Oleh dari Martapura

Selain perhiasan, Martapura punya kuliner khas yang jarang dibahas: Wadai Bangkit, kue kering dengan rasa gurih-manis yang dibuat dari tepung kanji. Kue ini sulit ditemukan di luar Kalimantan Selatan. Soto Banjar dan nasi kuning khas Banjar juga mudah ditemukan di warung-warung sekitar pasar.

Untuk oleh-oleh non-perhiasan, amplang ikan, kerupuk ikan, dan berbagai produk olahan ikan khas Banjar tersedia di pasar dan toko sekitar pusat kota. Kalau Anda mencari perhiasan sebagai oleh-oleh, anggaran minimal yang masuk akal dimulai dari sekitar Rp100.000 untuk aksesori batu mulia sederhana, tergantung jenis dan ukuran batu yang dipilih.

Martapura bukan kota besar dengan infrastruktur wisata yang lengkap, tapi justru itu yang membuat kunjungannya terasa berbeda. Dua identitas yang tampaknya bertolak belakang, berlian dan pesantren, ternyata hidup berdampingan dan sama-sama membentuk karakter kota ini sejak berabad-abad lalu.

Scroll to Top