Perbedaan Kwitansi dan Nota yang Wajib Diketahui Pengusaha

perbedaan kwitansi dan nota

Nota dan kwitansi sama-sama muncul dalam transaksi jual beli, tapi keduanya bukan dokumen yang sama. Nota adalah bukti transaksi yang mencatat apa yang dibeli, sedangkan kwitansi adalah bukti bahwa pembayaran sudah diterima. Keduanya saling melengkapi tapi tidak bisa saling menggantikan.

Perbedaan kwitansi dan nota terlihat sepele, tapi salah menggunakannya bisa menimbulkan masalah serius dalam pencatatan keuangan bisnis, terutama saat ada sengketa, audit pajak, atau klaim reimbursement karyawan.

Baca juga: Apa Itu Kurva S

Apa Itu Nota?

Nota adalah dokumen tertulis yang mencatat detail transaksi jual beli antara penjual dan pembeli. Isinya mencakup deskripsi barang atau jasa yang dibeli, jumlah unit, harga per unit, dan total biaya. Nota diterbitkan pada saat transaksi berlangsung, terlepas dari apakah pembayaran sudah dilakukan atau belum.

Bayangkan nota seperti daftar belanja yang sudah diisi oleh kasir: semua yang Anda ambil dari rak tercatat di sana, lengkap dengan harganya. Ini bukan bukti bahwa Anda sudah membayar, melainkan bukti bahwa transaksi pembelian terjadi.

Jenis-Jenis Nota dalam Bisnis

Nota tidak hanya satu jenis. Dalam praktik bisnis sehari-hari, ada empat jenis nota yang masing-masing punya fungsi berbeda.

Nota Kontan adalah jenis yang paling umum dijumpai di warung, toko ritel, dan transaksi tunai langsung. Nota kontan digunakan ketika barang dibayar langsung pada saat diterima. Ini yang biasanya diserahkan kasir supermarket atau toko bangunan setelah Anda membayar.

Nota Debit diterbitkan oleh pembeli kepada penjual untuk memberitahukan adanya pengurangan jumlah utang atau koreksi pada transaksi sebelumnya. Paling sering muncul ketika ada pengembalian barang atau ketidaksesuaian kualitas produk yang sudah dikirim.

Nota Kredit adalah kebalikannya: diterbitkan oleh penjual kepada pembeli sebagai bukti pengurangan tagihan. Jika pembeli kelebihan bayar atau ada barang yang dikembalikan, penjual menerbitkan nota kredit yang nilainya bisa dipakai untuk transaksi berikutnya.

Nota Penjualan berfungsi sebagai bukti bahwa transaksi sudah sah terjadi, biasanya dipakai dalam transaksi bisnis B2B (business-to-business) yang melibatkan penagihan di kemudian hari.

Apa Itu Kwitansi?

Kwitansi adalah dokumen yang diterbitkan oleh penerima uang kepada pembayar sebagai bukti bahwa pembayaran sudah diterima. Isinya fokus pada informasi pembayaran: jumlah yang dibayarkan (ditulis dalam angka dan huruf), tanggal penerimaan, nama pembayar, nama penerima, dan tujuan pembayaran.

Kwitansi selalu diterbitkan setelah uang berpindah tangan. Tidak ada kwitansi yang diterbitkan sebelum pembayaran terjadi. Ini yang membedakannya secara fundamental dari nota.

Dari sisi legalitas, kwitansi punya posisi lebih kuat dari nota. Kwitansi yang sah harus ditandatangani oleh penerima uang, dan untuk jumlah di atas Rp5 juta, kwitansi harus diberi materai Rp10.000 agar punya kekuatan hukum yang lebih solid sebagai bukti pembayaran.

Tabel Perbedaan Kwitansi dan Nota

Berikut perbandingan lengkap antara nota dan kwitansi dalam satu tabel agar lebih mudah dibandingkan secara langsung.

AspekNotaKwitansi
Fungsi utamaBukti terjadinya transaksi jual beliBukti penerimaan pembayaran
Waktu penerbitanSaat transaksi berlangsung (sebelum atau saat pembayaran)Setelah pembayaran diterima
Isi utamaDetail barang/jasa: nama, jumlah unit, harga satuan, totalJumlah uang (angka dan huruf), nama pembayar/penerima, tujuan
Tanda tanganTidak wajib (cukup paraf)Wajib ada tanda tangan penerima uang
MateraiTidak diperlukanDiperlukan untuk transaksi di atas Rp3 juta
Kekuatan hukumLebih lemah, sebagai referensi transaksiLebih kuat, bisa jadi bukti sah di pengadilan
PenerbitPenjual kepada pembeliPenerima uang kepada pembayar
Status pembayaranTidak mencerminkan apakah sudah dibayarMembuktikan pembayaran sudah selesai

Perbedaan Kwitansi dan Nota dalam Praktik Bisnis

Dalam siklus transaksi yang lengkap, nota dan kwitansi bekerja secara berurutan, bukan paralel. Nota diterbitkan lebih dulu saat barang diserahkan atau jasa dilakukan. Kwitansi menyusul setelah pembayaran diselesaikan.

Ambil contoh praktis: Anda membeli cat tembok 10 kaleng di toko bahan bangunan. Setelah memilih produk, kasir menyerahkan nota yang mencantumkan nama cat, harga per kaleng, dan total yang harus dibayar. Setelah Anda menyerahkan uang dan kasir menerimanya, barulah kwitansi diterbitkan sebagai bukti pelunasan.

Dalam transaksi kredit atau cicilan, pola ini sedikit berbeda. Nota diterbitkan satu kali untuk total pembelian, sedangkan kwitansi diterbitkan setiap kali ada angsuran yang masuk. Jika seseorang mencicil pembelian dalam enam kali bayar, mereka seharusnya punya satu nota dan enam kwitansi.

Kesalahan Umum dalam Menggunakan Nota dan Kwitansi

Banyak pelaku usaha kecil mencampur adukkan fungsi keduanya, dan ini bisa berujung pada masalah yang tidak kecil.

Memakai nota sebagai bukti pembayaran resmi. Ini kesalahan yang paling sering terjadi. Nota hanya membuktikan transaksi pembelian terjadi, bukan bahwa uang sudah diterima. Jika ada sengketa soal apakah pembayaran sudah dilakukan, nota tidak cukup kuat sebagai bukti. Kwitansi yang ditandatangani adalah dokumen yang tepat untuk situasi itu.

Tidak menyimpan salinan. Baik nota maupun kwitansi sebaiknya disimpan oleh kedua pihak yang bertransaksi. Penjual menyimpan salinan nota untuk pencatatan stok dan penerimaan, sedangkan pembeli menyimpannya sebagai dasar klaim jika ada masalah dengan barang yang dibeli.

Kwitansi tanpa tanda tangan. Kwitansi yang tidak ditandatangani penerima uang tidak punya kekuatan hukum. Dalam sengketa perdata, kwitansi tanpa tanda tangan bisa ditolak sebagai bukti. Selalu pastikan penerima uang menandatangani kwitansi sebelum diserahkan.

Melewatkan materai untuk transaksi besar. Banyak yang tidak tahu bahwa berdasarkan UU Bea Meterai No. 10 Tahun 2020, kwitansi untuk transaksi di atas Rp5 juta wajib dibubuhi materai Rp10.000 agar sah secara hukum. Tanpa materai, kwitansi tetap sah sebagai dokumen internal, tapi kekuatannya sebagai alat bukti di pengadilan berkurang.

Pentingnya Nota dan Kwitansi untuk Administrasi Keuangan

Bagi bisnis yang sudah rapi pembukuannya, nota dan kwitansi bukan sekadar formalitas. Keduanya adalah fondasi pencatatan keuangan yang akurat.

Nota memudahkan rekonsiliasi stok barang: setiap nota penjualan bisa dicocokkan dengan pergerakan inventaris. Ini penting untuk mendeteksi keselisihan antara barang yang tercatat keluar dengan uang yang masuk.

Kwitansi menjadi bukti sah penerimaan kas yang dipakai dalam laporan arus kas. Tanpa kwitansi yang teratur, bisnis akan kesulitan melacak kapan pembayaran benar-benar masuk, terutama jika ada piutang dari beberapa pelanggan sekaligus.

Menurut Kementerian Keuangan, kuitansi merupakan dokumen bukti penerimaan uang yang sah dan menjadi syarat utama pertanggungjawaban pembayaran. Pemahaman yang tepat tentang dokumen transaksi ini membantu bisnis menyusun laporan keuangan yang lebih akurat dan memenuhi standar audit. Kesalahan dalam penggunaan dokumen ini sering kali baru terdeteksi saat proses audit, ketika memperbaikinya jauh lebih rumit dan memakan waktu.

Untuk keperluan pajak, baik nota maupun kwitansi bisa menjadi dokumen pendukung dalam pelaporan SPT. Direktorat Jenderal Pajak mewajibkan wajib pajak bisnis menyimpan dokumen transaksi minimal selama 10 tahun. Ini berarti nota dan kwitansi dari transaksi bisnis yang dilakukan hari ini masih harus bisa diakses satu dekade ke depan.

Nota vs Kwitansi vs Invoice: Mana yang Harus Dipakai?

Banyak orang juga bingung membedakan ketiganya. Nota, kwitansi, dan invoice memang berkaitan tapi berbeda fungsi.

Invoice adalah tagihan: dokumen yang dikirim penjual ke pembeli untuk meminta pembayaran. Biasanya dipakai dalam transaksi B2B dengan sistem kredit, di mana barang dikirim lebih dulu dan pembayarannya menyusul sesuai jangka waktu yang disepakati (misalnya 30 hari).

Nota adalah konfirmasi bahwa transaksi terjadi dan apa saja yang terlibat. Bisa diterbitkan bersamaan dengan invoice atau terpisah.

Kwitansi adalah penutup siklus: membuktikan bahwa uang sudah berpindah tangan dan hutang sudah lunas. Seperti tanda tangan penutup di akhir kontrak, kwitansi menandai bahwa semua kewajiban pembayaran sudah dipenuhi.

Menurut Gramedia Literasi, dalam bisnis yang lebih kompleks seperti perdagangan antarperusahaan, ketiga dokumen ini sering digunakan bersama dalam satu siklus transaksi yang lengkap. Invoice dikirim saat barang dikirim, nota debit atau kredit dipakai jika ada koreksi, dan kwitansi diterbitkan begitu pembayaran diterima.

Perbedaan kwitansi dan nota memang terkesan teknis, tapi dampaknya sangat nyata dalam operasional bisnis sehari-hari. Gunakan keduanya sesuai fungsinya masing-masing, simpan salinannya dengan rapi, dan pastikan kwitansi selalu ditandatangani dan diberi materai untuk transaksi bernilai besar. Dengan begitu, pencatatan keuangan bisnis Anda punya dasar dokumen yang kuat dan tahan uji.

Format dan Elemen Wajib dalam Nota yang Benar

Nota yang baik bukan sekadar kertas bertuliskan harga. Ada elemen minimum yang harus ada agar nota berfungsi optimal sebagai dokumen transaksi.

  • Nama dan alamat penjual: identitas usaha yang menerbitkan nota.
  • Nomor nota: penting untuk memudahkan pelacakan dan pengarsipan.
  • Tanggal transaksi: kapan transaksi terjadi.
  • Nama pembeli: terutama untuk transaksi B2B, bisa dikosongkan untuk transaksi ritel umum.
  • Deskripsi barang/jasa: nama produk, spesifikasi jika perlu.
  • Jumlah unit dan harga satuan: agar total bisa diverifikasi secara independen.
  • Total harga: termasuk pajak jika ada.

Untuk toko kecil, nota kontan biasanya dicetak dari mesin kasir atau dibuat manual menggunakan buku nota rangkap dua, sehingga penjual menyimpan satu lembar dan pembeli mendapat satu lembar.

Format dan Elemen Wajib dalam Kwitansi yang Sah

Kwitansi yang sah secara hukum memuat elemen-elemen berikut tanpa terkecuali.

  • Jumlah uang yang diterima: ditulis dua kali, dalam angka dan dalam huruf, untuk mencegah pemalsuan.
  • Tujuan pembayaran: untuk apa uang tersebut diserahkan, misalnya “pembayaran sewa ruang Oktober 2025”.
  • Tanggal penerimaan: kapan uang diterima, bukan kapan kwitansi dibuat.
  • Nama dan tanda tangan penerima uang: penerima uang harus menandatangani sendiri, bukan orang lain atas namanya.
  • Nama pembayar: siapa yang menyerahkan uang.
  • Materai: untuk transaksi di atas Rp5 juta berdasarkan UU Bea Meterai No. 10 Tahun 2020.

Penulisan jumlah dalam huruf adalah langkah pengamanan penting. Angka bisa lebih mudah diubah oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sedangkan tulisan tangan yang mengeja jumlah secara lengkap jauh lebih sulit dipalsukan tanpa terlihat.

Digitalisasi Nota dan Kwitansi untuk UMKM

Satu perkembangan yang mengubah cara UMKM mengelola dokumen transaksi adalah digitalisasi. Nota dan kwitansi digital kini sudah diakui secara hukum di Indonesia, seiring berlakunya UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) beserta perubahannya.

Nota digital bisa diterbitkan lewat aplikasi kasir seperti Moka, Majoo, atau sistem point of sale lainnya. Hasilnya bisa dikirim via WhatsApp atau email ke pembeli, tanpa perlu cetak fisik. Ini mengurangi biaya kertas dan risiko dokumen hilang.

Kwitansi digital juga sudah bisa diterbitkan menggunakan tanda tangan elektronik yang tersertifikasi. Kekuatan hukumnya setara dengan kwitansi fisik selama memenuhi syarat tanda tangan elektronik yang sah berdasarkan peraturan yang berlaku.

Untuk keperluan reimbursement karyawan, banyak perusahaan sudah mengizinkan pengumpulan nota dan kwitansi digital melalui aplikasi internal. Karyawan cukup foto nota atau kwitansi menggunakan ponsel, unggah ke sistem, dan ajukan reimbursement tanpa perlu menyerahkan dokumen fisik ke bagian keuangan.

Kesalahan Nota dan Kwitansi yang Bisa Mempersulit Audit

Bagi bisnis yang sudah mencapai skala tertentu dan wajib diaudit, kesalahan dalam pengelolaan nota dan kwitansi bisa menimbulkan temuan audit yang merepotkan.

Auditor akan mencari ketidaksesuaian antara jumlah di nota dengan jumlah di kwitansi. Jika nota menunjukkan penjualan Rp5 juta tapi kwitansi hanya mencatat penerimaan Rp4,5 juta, ada selisih Rp500 ribu yang harus dijelaskan. Jika tidak ada dokumen pendukungnya, ini bisa dianggap sebagai penghasilan yang tidak tercatat.

Hal serupa berlaku untuk nota debit dan kredit yang tidak diarsipkan dengan baik. Jika ada koreksi transaksi tapi nota debit atau kreditnya hilang, rekonsiliasi akun piutang atau utang menjadi kacau dan sulit dibuktikan kebenarannya.

Sistem pengarsipan yang rapi, baik fisik maupun digital, bukan kegiatan administratif biasa. Ini adalah investasi untuk memastikan bisnis bisa membuktikan setiap transaksi yang pernah terjadi, kapan pun diminta oleh pihak pajak, auditor, atau mitra bisnis.

Nota dan Kwitansi dalam Konteks Akuntansi

Bagi yang mengelola pembukuan sendiri, nota dan kwitansi adalah dua sumber data utama dalam mencatat transaksi ke jurnal harian.

Nota kontan, saat diterima oleh pembeli, dicatat sebagai pengeluaran atau pembelian. Bagi penjual, nota yang sama menjadi dasar pencatatan penjualan dan pengurangan stok. Dalam sistem akuntansi double-entry, setiap transaksi dari nota minimal memengaruhi dua akun: akun penjualan dan akun piutang atau kas, tergantung apakah pembayaran sudah diterima atau belum.

Kwitansi, di sisi pembeli, dicatat sebagai pengeluaran kas. Di sisi penjual, kwitansi menjadi dasar pencatatan penerimaan kas dan pelunasan piutang jika transaksi sebelumnya dilakukan dengan sistem kredit. Tanpa kwitansi, akuntan tidak punya dasar untuk mengkreditkan akun piutang dan mendebit kas.

Ini membuat kwitansi bukan sekadar “tanda terima” biasa. Kwitansi adalah dokumen pemicu pencatatan akuntansi yang mengubah posisi neraca perusahaan: saat kwitansi diterbitkan, akun piutang berkurang dan akun kas bertambah di sisi penjual, sementara di sisi pembeli akun utang berkurang dan akun kas berkurang.

Pertanyaan Umum Seputar Nota dan Kwitansi

Apakah struk belanja minimarket sama dengan nota? Ya, struk dari mesin kasir minimarket adalah bentuk nota kontan yang diterbitkan secara otomatis. Fungsinya sama: mencatat apa yang dibeli dan berapa total yang dibayarkan.

Apakah nota dan kwitansi bisa digabung dalam satu dokumen? Untuk transaksi tunai yang terjadi sekaligus, beberapa bisnis menggabungkan keduanya dalam satu dokumen yang memuat detail barang sekaligus konfirmasi penerimaan uang. Ini diperbolehkan selama semua elemen wajib dari keduanya tercantum, termasuk tanda tangan penerima uang di bagian konfirmasi pembayaran.

Berapa lama nota dan kwitansi harus disimpan? Untuk keperluan pajak, Direktorat Jenderal Pajak mewajibkan penyimpanan dokumen transaksi minimal 10 tahun. Untuk keperluan internal dan potensi sengketa perdata, menyimpan dokumen minimal 5 tahun setelah transaksi terjadi adalah praktik yang aman.

Bagaimana jika nota atau kwitansi hilang? Nota yang hilang bisa diminta duplikatnya dari penjual selama data transaksi masih tersimpan di sistem mereka. Untuk kwitansi yang hilang, prosesnya lebih rumit karena melibatkan pengakuan tertulis dari penerima uang bahwa pembayaran memang sudah diterima. Inilah alasan paling kuat menggunakan sistem penyimpanan digital: dokumen yang tersimpan di cloud tidak bisa hilang terbakar atau kebanjiran.

Apakah kwitansi dari individu (bukan usaha formal) tetap sah? Ya, kwitansi dari individu tetap sah secara hukum selama memenuhi unsur-unsur yang diperlukan: jumlah, tujuan, tanggal, dan tanda tangan. Dalam sengketa, kwitansi individu bisa digunakan sebagai alat bukti di pengadilan, khususnya jika disertai materai sesuai ketentuan.

Scroll to Top